Rabu, 16 Januari 2013

NASIONALISME atau REALISTISME ??

Anak : "Apa yg bapak harapkan dr pemerintah Indonesia?? Malaysia negara kaya dan makmur, Pak."
Bapak: "Negeri kita ini jauh lebih kaya n lebih makmur, Nak.."
Anak : "Yang makmur itu di jakarta, pak. Di kota ! bukan disini...Apa yg diberikan pemerintah indonesia kpd kita? kita ini diperbatasan,,,dekat dengan hutan,, sarana sekolah, pasar, kesehatan, jauh sekali dari kota. paling dekat dgn itu adalah di negara sebelah, Malaysia. Disana segala yg kita butuhkan tercukupi. Disana bapak bisa mendapatkan perawatan kesehatan. Kita bisa hidup lebihbaik, lebih layak. Tidak sprti disini, rumah kumuh, hutan dimana2, sarana yg sangat minim dan kurang sekali perhatian dr pemerintah Indonesia."
Bapak: "Mengatur negara sebesar ini tak semudah membalik telapak tangan, Nak! Aku tak sudi mengemis di Negara orang! Pergilah jika itu kehendakmu, tp aku hanya ingin    
hidup disini, di negeri tanah kelahiran ku, negeri yg kucintai. INDONESIA.."

Cuplikan dialog diatas adalah contoh bahwa betapa memprihatinkannya keadaan saudara kita di daerah  perbatasan negara Indonesia..
Tidak hanya masalah kemiskinan, pelayanan publik, ataupun persolan pendidikan dan kesehatan di daerah perbatasan, banyak warga Negara Indonesia yang tinggal di perbatasan mengalami kerentanan rasa nasionalisme. Hal ini menjadi sangat mungkin terjadi, jika pemerintah hanya memakai cara konvensional dalam meredam persoalan perbatasan ini. Cara konvensional itu yakni dengan pendekatan militer untuk menjaga pertahanan dan keamanan, tanpa dibarengi dengan upaya perbaikan infrastruktur, pengembangan Sumber Daya Manusia dan pelayanan publik daerah perbatasan ini..
Di Kalimantan timur sendiri ada tiga daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia, yakni Kabupaten Nunukan, Malinau dan Kabupaten Kutai Barat. Sejumlah desa yang berada di sepanjang garis perbatasan
itu kondisinya masih memprihatinkan karena minimnya infrastruktur. Maka sangat menjadi maklum, jika sebagian besar penduduk di tiga kabupaten ini lebih memilih bekerja di Malaysia untuk menopang kehidupan keluarganya. Disamping lapangan pekerjaan yang tersedia cukup luas, tingkat upah yang diberikan di Malaysia juga dianggap lebih memadai. Namun, persoalannya adalah Malaysia tidak mengijinkan anak-anak WNI yang tinggal di perbatasan untuk ikut mengakses pendidikan di wilayah mereka. Tentu saja akses pendidikan ini menjadi persoalan ketika anak-anak di perbatasan harus tumbuh tanpa fasilitas penunjang pendidikan yang memadai. Lantas, dari mana mereka bisa mengenal bangsa dan negaranya jika sarana pembelajarannya saja minim??
Wajar jika WNI tindak mengenal negaranya sendiri, bahkan meski hanya melalui symbol kenegaraan
sekalipun........
Kalau sudah begini pentingkah Nasionalisme bagi mereka??
Ataukah Realistisme jauh lebih penting?
Sampai kapankah Pemerintah benar2 peduli dan memberikan pelayanan menyeluruh kepada warga negara nya??



Tidak ada komentar:

Posting Komentar